Senin, 11 November 2013

Akhirnya Keluarga [Alm] Fitri Adriani dan PPM Rahmatul Asri berdamai

Musibah yang menimpa keluarga besar PPM Rahmatul Asri dengan wafatnya salah seorang santriwati atas nama Fitri Adriani saat berenang karena terseret arus di lokasi wisata pantai Wakka kab. Pinrang bulan Oktober lalu, hubungan antara keluarga almarhum Fitri Adriani sempat renggang. berawal saat pihak PPM Rahmatul Asri hendak melayat almarhumah Fitri Adriani ketika akan dikebumikan, namun pihak keluarga almarhumah menolak. Puncaknya, saat pihak keluarga almarhumah melaporkan pihak PPM Rahmatul Asri ke Polres Pinrang Sul-Sel karena dianggap bertanggung jawab atas wafatnya Fitri Adriani.

Berkat rahmat Allah SWT, dan kelapangan dada yang diberikan Allah SWT kepada keluarga almarhumah, dengan penuh keikhlasan, akhirnya laporan tersebut dicabut kembali dan bahkan mengundang pihak PPM Rama di hari ke 7 wafatnya Fitri Adriani. Pencabutan laporan tersebut dilakukan langsung oleh orang tua almarhumah dan disaksikan oleh direktur PPM Rahmatul Asri ust. A. Ikbal Malik, S.S.

Undangan pihak keluarga almarhumah pada hari 7 disambut gembira oleh pihak PPM Rahmatul Asri. pengurus pondok, guru-guru, santri dan santriwati akhirnya berangkat menjawab undangan. suasana haru menyelimuti kedua belah pihak. mereka saling menyesal, saling minta maaf dan saling memaafkan.

Acara dimulai dengan membaca yasin, dilanjutkan dengan khatam al-Qur'an, sambutan direktur pondok Ust. A. Ikbal Malik, S.S., serta taushiyah yang dibawakan oleh KH.Amir Musthafah, Lc, M. Pd.I Kepala MA Rahmatul Asri. Acara dipandu oleh Ust. Mursidin Albin, S.S, M. Pd. I Kepala M.Ts. Rahmatul Asri.

Ditektur Pondok dalam sambutannya mengungkapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar almarhumah Fitri Adriani atas mushibah ini, dan mengucapkan banyak terima kasih atas dicabutnya kembali laporan di Polres Pinrang, serta kesediaan pihak keluar mengundang dan menerima pihak PPM Rama di hari ke 7 ini.

Sementara itu, KH. Amir Musthafah, Lc, M. Pd.I. mengawali taushiyahnya dengan kisah wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW,  dimana pada saat itu saydina Umar bin Khattab salah seorang sahabat terdekat beliau sangat tergoncang seakan-akan tidak percaya atas wafatnya sang Nabi. Saydina Umar akhirnya menerima keadaan itu setelah mendengar nasehat saydina Abu Bakar Ash-Shiddiq.

kisah ini mengisyaratkan bahwa jangankan manusia biasa, seorang sahabat besar pun merasa tergoncang dan bersedih atas musibah kematian orang yang dicintai. selama hal itu tidak disertai dengan celaan atas taqdir Allah SWT.

Wallahu A'lam...










Tidak ada komentar:

Posting Komentar